MONOLOG
FRAME MANTALU
Naskah : M.
Ramadhan
Monolog Tradisi Sulawesi Tengah
Panggung senyap,
terdengar suara lalove yang berkumandang lalu tiba-tiba dihentikan oleh suara
gong yang menggema memecah malam waktu itu dan semakin lama suara gong itu
menghilang lalu masuk nyanyian yang dinyanyikan ketika upacara novunja
dilaksanakan.
Lighting stag pada
siluet, terlihat adegan orang sedang melakukan gerakan dibaliknya. Lalu lampu
padam kembali dan kembali lighting stag ketika aktor berada diatas sebuah drum
dengan gesture yang santai sambil menghisap sebatang tembakau dan disampingnya
ada sebuah meja kecil dan diatasnya ada secangkir kopi atau saguer
Hammmmaaaaa….napane
betul matahari beberapa hari ini, sampai-sampai pacul dan tanah tidak pernah
mau baku akur, begitu juga juga sapi kayak sudah jengkel ba’ lihat saya, yang
ada Cuma bising sang traktor yang angkuh dengan kaki dan lengan besinya
(menarik nafas seakan mengeluh)
Beberapa saat
terdiamdan melihat situasi sekitar yang mulai hening
Astaga……sudah
mulai dant pertunjukannya padahal tadi saya sementara latihan menjadi aktor
dadakan yang baik
Tapi
tunggu sebentar (masuk kedalam drum dan mencari sesuatu) dinaskah ini ditulis
kalau pertunjukannya belum dimulai begitu juga dibilang sutradaranya (merasa
malu dan jengkel) kalau begitu saya keluar dulu, mau baganti kostum biar
ganteng sedikit (ketika aktor hendak keluar, seakan dia mendengar suara yang
menyuruhnya tetap melanjutkan adegannya) apa…….. lanjut saja, tapi saya belum
pakai parfum ini, terakhir
orang…..(seakan dimarahi oleh seseorang, aktor merasa risih dengan komentarnya)
oh iyo….iyoo….okemo tano, (berjalan kearah drum) nandasa betul sutradaranya,
narau-rau mungkin gara-gara…….(kepada penonton sambil tertawa kecil) kamu orang
sudah mengerti toh….ah itu dia ……bela tanah air….(ketawanya semakin besar lalu
seakan mendengar penonton tertawa diapun menyuruh penonton agar tidak terlalu
gaduh) sssstttt….jangan terlalu lebar
ketawanya nanti hawa malam ini menjadi mencekam.
Kalau
begitu saya mulaijo pertunjukannya….(aktor lalu duduk diujung meja bersampingan
dengan property diatasnya)…sarara sampe suvuku, ntuama nte tinaku jumangu-mangu
…eh tabale, tapi biar saja alabut….maklumlah saya hanyalah seorang anak
panggung dadakan, sekali lagimohon dimaklumi hammo….
Baiklah
penonton, saya akan mencoba memanggil aktor lain yang ada dicerita
ini,….(sambil berteriak memanggilnya)…tuaka….tuaka….tuakaaaa…..
(lampu
stag dibelakang siluet dan menari bersama siluet tersebut) aku hidup dalam
mitologi-mitologi kalian yang menggambarkan cita rasa sebuah adat istiadat yang
kalian junjung (aktor berhenti bermain dengan siluet yang memakai roda dan
melihat tajam kearah penonton) oh tapi maaf sebelumnya, saya bukanlah si tuaka
yang dipanggil oleh rekan saya yang ada didimensi sebelah, nama saya adalah
Baetia, walaupun saya adalah bungsu dari lima orang bersaudara namun cerita ini
berdiri dari langkah-langkah saya, sekali lagi nama saya adalah Baetia, bisa
dicerna bukan….yah sudahlah…(seakan mendengarkan sahutan
penonton)..status…..apa jenis kelamin…..jangan ….kalian seharusnya jangan
menanyakan sesuatu yang sifatnya prinsipil atau
yang sifatnya pribadi nanti konsentrasi kita buyar dan tidak terfokus
pada malam-malam atau hari-hari kita…apa kalian tahu, sudah lama saya
merindukan hari-hari ini, hari dimana semua hutan tetap hijau, air mengalir
dengan jernih, araya tentram dengan kawanannya, yang mana kesemuanya membuat
mata ini hanyut dalam desir air ditepin sungai Paneki, (seakan mata aktor
terasa berat untuk melanjutkan) maaf, penonton, saya harus bergegas pindah
kedimensi yang lain sebab malam sudah bertambah malam..(lalu aktor kembali
menari dengan Siluet putih tadi dan lampu mati perlahan dan seketika aktor
langsung duduk dan minum kopi)…oh iya penonton, maaf sebelumnya telah terjadi
kesalahan tehnis ternyata tadi itu bukanlah sang tuaka yang kita panggil tapi
ternyata si bungsu Baetia…tunggu sebentar saya Tanya dulu teman saya (aktor
seakan menghadap kearah lain namun masih tetap dalam posisi duduk) dimana
dia….apa tidak tahu, (pada penonton) tunggu sebentar penonton, saya akan coba
BBM-an dengan kawan saya yang lain semoga dia tahu keberadaannya
dimana….(berdiri sambil menunggu Handphonenya berbunyi dan tidak lama handphone
miliknya berbunyi) itu pasti infonya….(berjalan mendekati meja) oh iya penonton
ternyata betul seperti prediksi saya kalau ternyata sang tuaka sedang asik
bercengkrama sambil mengasah guma andalannya dan sesekali pohon-pohon
mempelototinya dengan gusar, mau tahu kenapa pohon-pohon itu gusar..? itulah
pertanyaan yang seharusnya kita tahu dari baetia sebab sepengetahuan saya sang
tuaka adalah orang yang paling menaakutkan dimuka bumi ini, dan saya harap
Baetia mau memberikan bocoran dari pertanyaan-pertanyaan kita tadi, (merengsek
kesisi lain panggung) sabaar penonton sepertinya ada seseorang yang sudah tidak
sabar untuk memberikan infonya dari sisi lain panggung ini dan saya harus
kembali kepembaringanku sebab dia akan segera dating (akor lalu masuk kedalam
drum). (sang Tuaka keluar dengan sebilah parang yang tajam dari dalam drum dan
memakai sesuatu diatas kepalanya dan menutupi wajahnya dengan topeng merah dan
dengan lantang dia menyapa para penonton) selamat malam gunung-gunungku dan apa kabar….? Semoga
kabarmu baik-baik saja….(mengarah kesisi lain) selamat istirahat hutan-hutanku
yang imut….semoga kalian tetap akur dan
semoga pula kalian bisa beristirat dengan tenang dan siapa tahu juga kalian
akan bertemu dengan mimpi-mimpi indah kalian
(aktor lalu merubah intonasi dan mimiknya seakan licik) sebab besok
kalian akan bersedih dalam duka yang teramat dalam, sebab..(mengangkat gumanya)
guma ini akan mulai meraung dengan lapar pada pijakan kalian….(sambil berjalan
kearah drum) mimpi yang indah…mimpilah yang indah….(lampu kembali menyala
ketika seseorang muncul dari dalam drum) penonton, apa kabar kalian…sadis
terdengar bukan..? saya kira itulah sang tuaka yang konon dialah yang terkuat,
dari pada kita membicarakan satu sosok saja bagaimana kalau kita panggil
keduanya untuk saling bertemu dalam satu ruang, tapi sebelumnya saya akan coba
bermain dalam kegelapan dulu (lampu lalu
menyala merah mengarah kesiluet dan keluarlah sosok tuaka dengan keangkuhannya
dengan tertawa sekan puas) ……..marilah kita semua untuk tertawa mala mini,
sebab duka yang mereka alami adalah keseimbangan dalam hidup
ini…..(tertawa)…kalian akan menjadi saksi kebengisan gumaku, ketulusan
egoku….kehangatan amarahku….mari….mari…..ayo kemari …mari kita rayakan
kemenangan ini dengan pesta…tapi tunggu sebentar sepertinya ada yang kurang
bvahagia bersama kita malam ini, (berjalan sebentar menuju arah drum) kenapa
mesti kau cabut semua kebahagian mereka…mereka polos…mereka hanya ingin
menghibur hari dan malam kita….apa kau tahu….dan apakh kau pernah berpikir
sebentar untuk apa semua itu…kau rubuhkan mereka…tapi kau tidak pernah tahu apa
yang akan kau ganti….(aktor kembali memasang topengnya) ada apa denganmu
Baetia….bukankah semua ini adalah kepuasan untuk kelangsungan hidup kita
kelak….saya menjadi bingung denganmu…jangan-jangan kau sudah tidak mau
makan….(melepas topengnya) tidak waras….siapa yang tidak waras….kenapa
keangkuhanmu tetap saja bengalahkan hatimu, ingat kau harus tahu persoalannya,
bahwa gunung dan hutan yang kau tebas itu pasti akan marah dan kaupun tidak
pernah tahu apa yang akan kau Tanami disana….kau justru hanya berbicara tentang
makanan….maafkan saya harus ikut dalam duka mereka dan menjadi bahagian dari
mereka sebagai tumbal dari keangkuhanmu…. …semoga pengorbananku akan menjadi
berguna untukmu sebagai tanaman yang kau butuhkan… selamat tinggal Tuaka (aktor
lalu hilang dibalik siluet lalu alunan musik suasana masuk dan lighting mati
dan yang ada hanya cahaya lilin yang dinyalakan oleh sang tuaka yang hanyut
dalam suasana dan seakan menyesali serta menyayangi kepergian Baetia )….Baetia….Baetiaaaaa….akan
kukatakan pada sinar bulan ketika malam-malam terakhirmu pun hanyut dalam sepi
mereka…akan kukatakan pada langit hari ketika mendung mulai memakai jubah
hitamnya, akan ku turuti semua wasiat darimu wahai adikku sayang…. (kepada
penonton) wahai kalian penghuni ruang-ruang keangkuhanku….ingatlah hari ini
Sesutu kemungkaran telah terkikis oleh pengorbanan yang tersesali…(kepada diri
sendiri) sungguh saya ikhlas dengan semua ini….semoga kebaikan dan
pengorbananmu bisa kembali menghijaukan ruangku dan membuat semua perut kami
bisa tersenyum……(lampu padam perlahan-lahan…dan tuaka terus memanggil nama
Baetia…)…..Baetia..Baetia…..Baetia…..
(kembali
pada narator) itulah dua sisi yang kehidupan yang berlawanan namun tetap saling
membutuhkan dimana salah satunya rela berkorban untuk yang lainnya….Maya Mpae
yang kita kenal sekarang ini….konon adalah penjelmaan dari rekan saya tadi yang
rela mengorbankan dirinya. Sebagai seorang anak panggung sepertinya kita diajarkan untuk terus berkarya,
menghargai alam sekitar tentunya juga adat istiadat kita……mari berkarya ….mari
mencintai kebudayaan kita dan mari mencintai alam kita dengan Tradisi dalam
Konservasi…..penonton sepertinya saya mau lanjutkan mimpiku dulu siapa tahu
saya bisa ketemu kembali dengan sang tuaka dan mendapatkan bocoran kisahnya
lagi….tabe…(aktor berjalan dan naik keatas drum lalu tertidur pun lampu redup
perlahan-lahan……
No comments:
Post a Comment