Tuesday, June 3, 2014

MOnololog Mantalu (Festival Danau Lindu III)

MONOLOG FRAME MANTALU
Naskah : M. Ramadhan
Monolog Tradisi Sulawesi Tengah


Panggung senyap, terdengar suara lalove yang berkumandang lalu tiba-tiba dihentikan oleh suara gong yang menggema memecah malam waktu itu dan semakin lama suara gong itu menghilang lalu masuk nyanyian yang dinyanyikan ketika upacara novunja dilaksanakan.
Lighting stag pada siluet, terlihat adegan orang sedang melakukan gerakan dibaliknya. Lalu lampu padam kembali dan kembali lighting stag ketika aktor berada diatas sebuah drum dengan gesture yang santai sambil menghisap sebatang tembakau dan disampingnya ada sebuah meja kecil dan diatasnya ada secangkir kopi atau saguer
Hammmmaaaaa….napane betul matahari beberapa hari ini, sampai-sampai pacul dan tanah tidak pernah mau baku akur, begitu juga juga sapi kayak sudah jengkel ba’ lihat saya, yang ada Cuma bising sang traktor yang angkuh dengan kaki dan lengan besinya (menarik nafas seakan mengeluh)
Beberapa saat terdiamdan melihat situasi sekitar yang mulai hening
Astaga……sudah mulai dant pertunjukannya padahal tadi saya sementara latihan menjadi aktor dadakan yang baik
Tapi tunggu sebentar (masuk kedalam drum dan mencari sesuatu) dinaskah ini ditulis kalau pertunjukannya belum dimulai begitu juga dibilang sutradaranya (merasa malu dan jengkel) kalau begitu saya keluar dulu, mau baganti kostum biar ganteng sedikit (ketika aktor hendak keluar, seakan dia mendengar suara yang menyuruhnya tetap melanjutkan adegannya) apa…….. lanjut saja, tapi saya belum pakai parfum ini,  terakhir orang…..(seakan dimarahi oleh seseorang, aktor merasa risih dengan komentarnya) oh iyo….iyoo….okemo tano, (berjalan kearah drum) nandasa betul sutradaranya, narau-rau mungkin gara-gara…….(kepada penonton sambil tertawa kecil) kamu orang sudah mengerti toh….ah itu dia ……bela tanah air….(ketawanya semakin besar lalu seakan mendengar penonton tertawa diapun menyuruh penonton agar tidak terlalu gaduh)  sssstttt….jangan terlalu lebar ketawanya nanti hawa malam ini menjadi mencekam.
Kalau begitu saya mulaijo pertunjukannya….(aktor lalu duduk diujung meja bersampingan dengan property diatasnya)…sarara sampe suvuku, ntuama nte tinaku jumangu-mangu …eh tabale, tapi biar saja alabut….maklumlah saya hanyalah seorang anak panggung dadakan, sekali lagimohon dimaklumi hammo….
Baiklah penonton, saya akan mencoba memanggil aktor lain yang ada dicerita ini,….(sambil berteriak memanggilnya)…tuaka….tuaka….tuakaaaa…..
(lampu stag dibelakang siluet dan menari bersama siluet tersebut) aku hidup dalam mitologi-mitologi kalian yang menggambarkan cita rasa sebuah adat istiadat yang kalian junjung (aktor berhenti bermain dengan siluet yang memakai roda dan melihat tajam kearah penonton) oh tapi maaf sebelumnya, saya bukanlah si tuaka yang dipanggil oleh rekan saya yang ada didimensi sebelah, nama saya adalah Baetia, walaupun saya adalah bungsu dari lima orang bersaudara namun cerita ini berdiri dari langkah-langkah saya, sekali lagi nama saya adalah Baetia, bisa dicerna bukan….yah sudahlah…(seakan mendengarkan sahutan penonton)..status…..apa jenis kelamin…..jangan ….kalian seharusnya jangan menanyakan sesuatu yang sifatnya prinsipil atau  yang sifatnya pribadi nanti konsentrasi kita buyar dan tidak terfokus pada malam-malam atau hari-hari kita…apa kalian tahu, sudah lama saya merindukan hari-hari ini, hari dimana semua hutan tetap hijau, air mengalir dengan jernih, araya tentram dengan kawanannya, yang mana kesemuanya membuat mata ini hanyut dalam desir air ditepin sungai Paneki, (seakan mata aktor terasa berat untuk melanjutkan) maaf, penonton, saya harus bergegas pindah kedimensi yang lain sebab malam sudah bertambah malam..(lalu aktor kembali menari dengan Siluet putih tadi dan lampu mati perlahan dan seketika aktor langsung duduk dan minum kopi)…oh iya penonton, maaf sebelumnya telah terjadi kesalahan tehnis ternyata tadi itu bukanlah sang tuaka yang kita panggil tapi ternyata si bungsu Baetia…tunggu sebentar saya Tanya dulu teman saya (aktor seakan menghadap kearah lain namun masih tetap dalam posisi duduk) dimana dia….apa tidak tahu, (pada penonton) tunggu sebentar penonton, saya akan coba BBM-an dengan kawan saya yang lain semoga dia tahu keberadaannya dimana….(berdiri sambil menunggu Handphonenya berbunyi dan tidak lama handphone miliknya berbunyi) itu pasti infonya….(berjalan mendekati meja) oh iya penonton ternyata betul seperti prediksi saya kalau ternyata sang tuaka sedang asik bercengkrama sambil mengasah guma andalannya dan sesekali pohon-pohon mempelototinya dengan gusar, mau tahu kenapa pohon-pohon itu gusar..? itulah pertanyaan yang seharusnya kita tahu dari baetia sebab sepengetahuan saya sang tuaka adalah orang yang paling menaakutkan dimuka bumi ini, dan saya harap Baetia mau memberikan bocoran dari pertanyaan-pertanyaan kita tadi, (merengsek kesisi lain panggung) sabaar penonton sepertinya ada seseorang yang sudah tidak sabar untuk memberikan infonya dari sisi lain panggung ini dan saya harus kembali kepembaringanku sebab dia akan segera dating (akor lalu masuk kedalam drum). (sang Tuaka keluar dengan sebilah parang yang tajam dari dalam drum dan memakai sesuatu diatas kepalanya dan menutupi wajahnya dengan topeng merah dan dengan lantang dia menyapa para penonton) selamat  malam gunung-gunungku dan apa kabar….? Semoga kabarmu baik-baik saja….(mengarah kesisi lain) selamat istirahat hutan-hutanku yang imut….semoga kalian tetap akur  dan semoga pula kalian bisa beristirat dengan tenang dan siapa tahu juga kalian akan bertemu dengan mimpi-mimpi indah kalian  (aktor lalu merubah intonasi dan mimiknya seakan licik) sebab besok kalian akan bersedih dalam duka yang teramat dalam, sebab..(mengangkat gumanya) guma ini akan mulai meraung dengan lapar pada pijakan kalian….(sambil berjalan kearah drum) mimpi yang indah…mimpilah yang indah….(lampu kembali menyala ketika seseorang muncul dari dalam drum) penonton, apa kabar kalian…sadis terdengar bukan..? saya kira itulah sang tuaka yang konon dialah yang terkuat, dari pada kita membicarakan satu sosok saja bagaimana kalau kita panggil keduanya untuk saling bertemu dalam satu ruang, tapi sebelumnya saya akan coba bermain dalam kegelapan dulu  (lampu lalu menyala merah mengarah kesiluet dan keluarlah sosok tuaka dengan keangkuhannya dengan tertawa sekan puas) ……..marilah kita semua untuk tertawa mala mini, sebab duka yang mereka alami adalah keseimbangan dalam hidup ini…..(tertawa)…kalian akan menjadi saksi kebengisan gumaku, ketulusan egoku….kehangatan amarahku….mari….mari…..ayo kemari …mari kita rayakan kemenangan ini dengan pesta…tapi tunggu sebentar sepertinya ada yang kurang bvahagia bersama kita malam ini, (berjalan sebentar menuju arah drum) kenapa mesti kau cabut semua kebahagian mereka…mereka polos…mereka hanya ingin menghibur hari dan malam kita….apa kau tahu….dan apakh kau pernah berpikir sebentar untuk apa semua itu…kau rubuhkan mereka…tapi kau tidak pernah tahu apa yang akan kau ganti….(aktor kembali memasang topengnya) ada apa denganmu Baetia….bukankah semua ini adalah kepuasan untuk kelangsungan hidup kita kelak….saya menjadi bingung denganmu…jangan-jangan kau sudah tidak mau makan….(melepas topengnya) tidak waras….siapa yang tidak waras….kenapa keangkuhanmu tetap saja bengalahkan hatimu, ingat kau harus tahu persoalannya, bahwa gunung dan hutan yang kau tebas itu pasti akan marah dan kaupun tidak pernah tahu apa yang akan kau Tanami disana….kau justru hanya berbicara tentang makanan….maafkan saya harus ikut dalam duka mereka dan menjadi bahagian dari mereka sebagai tumbal dari keangkuhanmu…. …semoga pengorbananku akan menjadi berguna untukmu sebagai tanaman yang kau butuhkan… selamat tinggal Tuaka (aktor lalu hilang dibalik siluet lalu alunan musik suasana masuk dan lighting mati dan yang ada hanya cahaya lilin yang dinyalakan oleh sang tuaka yang hanyut dalam suasana dan seakan menyesali serta menyayangi kepergian Baetia )….Baetia….Baetiaaaaa….akan kukatakan pada sinar bulan ketika malam-malam terakhirmu pun hanyut dalam sepi mereka…akan kukatakan pada langit hari ketika mendung mulai memakai jubah hitamnya, akan ku turuti semua wasiat darimu wahai adikku sayang…. (kepada penonton) wahai kalian penghuni ruang-ruang keangkuhanku….ingatlah hari ini Sesutu kemungkaran telah terkikis oleh pengorbanan yang tersesali…(kepada diri sendiri) sungguh saya ikhlas dengan semua ini….semoga kebaikan dan pengorbananmu bisa kembali menghijaukan ruangku dan membuat semua perut kami bisa tersenyum……(lampu padam perlahan-lahan…dan tuaka terus memanggil nama Baetia…)…..Baetia..Baetia…..Baetia…..

(kembali pada narator) itulah dua sisi yang kehidupan yang berlawanan namun tetap saling membutuhkan dimana salah satunya rela berkorban untuk yang lainnya….Maya Mpae yang kita kenal sekarang ini….konon adalah penjelmaan dari rekan saya tadi yang rela mengorbankan dirinya. Sebagai seorang anak panggung  sepertinya kita diajarkan untuk terus berkarya, menghargai alam sekitar tentunya juga adat istiadat kita……mari berkarya ….mari mencintai kebudayaan kita dan mari mencintai alam kita dengan Tradisi dalam Konservasi…..penonton sepertinya saya mau lanjutkan mimpiku dulu siapa tahu saya bisa ketemu kembali dengan sang tuaka dan mendapatkan bocoran kisahnya lagi….tabe…(aktor berjalan dan naik keatas drum lalu tertidur pun lampu redup perlahan-lahan……

No comments:

Post a Comment