Monday, July 13, 2015

Besok Lebaran???
written by epho


disuatu kompleks di tengah hiruk pikuk kota, nampak sebuah rumah kostan yang dihuni oleh dua keluarga. dalam kesehariannya kedua keluarga ini tidak pernah akur dan saling memamerkan kelebihannya masing-masing,
pada suatu ketika keluarga dari galib berada didepan rumah dan bercerita tentang kekayaannya sendiri, lalu dari dalam rumah muncul lagi keluarga yang lainnya, yang tidak lain adalah keluarga Yanto yang juga tidak mau kalah dengan keluarga si galib, lalu mereka saling ricuh membesar-besarkan kekayaannya, dan perlahan-lahan mulai saling menyinggung satu sama lain. mereka mulai emosi, dan bisa dikata mulai memamerkan fisik mereka.
sedang dalam puncak emosi, tiba-tiba muncul penjual baju (daeng-daeng, epho namanya)...dan mencoba menawarkan jualannya. kedua keluarga tersebut bukannya mau membeli malah diam dan akhirnya si daeng tadi pulang dengan keheranan. dan kembali mereka beradu argumen, dan lagi-lagi muncul anak kecil,yang dengan santainya menegur kedua keluarga tadi, bukannya redah malah si anak kecil (thamrin) tadi dipanggil dan menjadi sasaran kemarahan mereka. setelah selesai menjadi bahan ocehan anak kecil tadi pergi dengan diam-diam dan sedikit keluar dari halaman rumah kedua keluarga tadi, anak itu mencoba mengeluarkan ayat yang berhubungan dengan silaturahim atau sejenisnya, bukannya mendengarkan malah si anak kecil tadi dilempari pakai sendal. setelah anak kecil tadi berlalu, kemudian kedua suami mereka berpamitan untuk mengais rezeki, salah seorang dari mereka menggunakan pakaian yang norak dan satunya lagi menggunakan atribut ojek.
............
disebuah kedai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah keduanya...
nampak seorang penjual yang sudah berumur namanya (Opa Parid)..dan seorang pembeli (epho) yang sedang asik minum kopi dan berdiskusi dengannya.
lalu dari kejahuan nampak dua orang berjalan saling bersenggolan bahu, lalu mereka duduk mengapit epho dan memesan kopi yang menjadi langganan mereka dari samping kedai nampak thamrin berdiri menirukan (Pak Mus) kalau galib sedikit saj gulanya, tapi kalau yanto dikase garam sedikit...keduanya berdiri dan memperhatikan thamrin dengan tatapan tajam. thamrinpun berlalu...namun seseorang yang berada di tengah mereka merasa risih dan mecoba beranjak dari tempatnya, namun keduanya menahan bahunya dan menanyakan asal dari si epho (seperti menginterogasi maling begitu)....tidak lama kemudian beranjaklah Galib dan lupa membayar Kopinya..(biasa Kasbon)lelu terjadi percakapan curhat antara penjual dengan Yanto, sesekali epho nyundul tapi tetap mendapatkan tatapan tajam..ditengah-tengah perbincangan terdengar teriakan dari kejahuan...lalu muncul pak RT (papa Iphonk), dan memberikan informasi tentang kejadian tadi, dan usut punya usut ternyata suara sirene tadi itu berasal dari mobil patroli polisi yang menangkap bandar kupon putih yang tidak lain adalah galib, setelah mendengarkan informasi tadi tidak lama kemudian muncul kedua istri bersama dengan thamrin dan bertanya tentang kejadian yang tadi, lalu pak RT memberikan wejangan kepada warganya...to be continued...


Thursday, April 2, 2015

Cerita Rakyat Banggai

Suku Banggai merupakan suku asli yang mendiami kepulauan Banggai di kabupaten Banggai Kepulauan dan kabupaten Banggai di provinsi Sulawesi Tengah. Suku Banggai terdiri dari dua kelompok, yaitu suku Banggai Kepulauan yang berada di kabupaten Banggai Kepulauan provinsi Sulawesi Tengah, dan suku Sea-sea (atau suku Banggai Pegunungan) yang berada di daerah pegunungan di kabupaten Banggai provinsi Sulawesi Tengah.
Di kabupaten Banggai sebenarnya terdapat tiga suku bangsa, yaitu suku Banggai, suku Saluan dan suku Balantak, tetapi ketiga suku ini berbeda dan masing-masing memiliki adat dan kebudayaan sendiri-sendiri. Suku Banggai dianggap sebagai penduduk asli wilayah ini. Sedangkan suku Saluan dan suku Balantak, merupakan pendatang dari wilayah lain di luar wilayah Banggai.
Adat istiadat dan kebudayaan yang tumbuh dan berkembang sejak zaman Kerajaan Banggai sebenarnya sangat banyak, tapi kini adat-istiadat dan budaya tersebut telah banyak yang ditinggalkan atau dilupakan.
Pada masa dahulu di wilayah suku Banggai ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang memiliki kekuasaan yang setengah dari wilayah Sulawesi Tengah, yaitu Kerajaan Banggai. Suku Banggai berkomunikasi di antara mereka menggunakan bahasa Banggai, yang memiliki beberapa dialek yang tersebar di beberapa kecamatan di kabupaten Banggai maupun di kabupaten Banggai Kepulauan. Bahasa Banggai merupakan anak cabang Malayo-Polinesia. Di samping di wilayah-wilayah inti suku Banggai, mereka juga tersebar di pesisir Sulawesi Tengah, Maluku, dan Maluku Utara.
Dalam kehidupan suku Banggai, musyawarah adat (Seba Adat) merupakan wadah untuk mempertahankan adat istiadat yang ada pada masing-masing suku di kerajaan Banggai. Masyarakat suku Banggai sangat patuh terhadap adat istiadat mereka.
Seba Adat diadakan oleh Perangkat Adat atau Kerajaan Banggai oleh Raja, atau Tomundo dalam bahasa Banggai, yang dihadiri oleh Basalo, yaitu sejenis kepala adat dalam cakupan kedaerahan kecamatan atau desa yang dari suku banggai. Sedangkan dari Saluan dan Balantak bernama Bosano dan Bosanyo. Selain Basalo, masih banyak perangkat adat lainnya yang membantu kegiatan Basalo, misalnya Kapitan.
Dalam perangkat kerajaan juga ada yang di sebut Mian Tuu, dan masih banyak lagi jabatan-jabatan adat yang membantu dalam kepengurusan kerajaan Banggai. Kegiatan Seba adat ini diadakan setiap tahunnya untuk Evaluasi hasil kerja atau Program dan perencanaan yang baru dalam setiap gerak masyarakat adat Banggai.
Beberapa tradisi kesenian suku Banggai juga sangat beragam, termasuk kesenian musik, yaitu Batongan, Kanjar, Libul dan lain sebagainya, juga ada tarian, yaitu Onsulen, Balatindak, Ridan dan banyak lagi. Selain itu mereka banyak menyimpan cerita rakyat yang dikenal dengan nama Banunut. Lalu ada lagu-lagu rakyat serta puisi yang terdiri dari Baode dan Paupe.
Masyarakat yang tinggal di tepian pantai dengan masyarakat yang tinggal di pedalaman akan memberikan suatu gambaran yang jauh berbeda dari kesenian, upacara adat, bahkan kehidupan adat sehari-hari tidak banyak menunjukan kesamaan. Contohnya, upacara adat atau perayaan ketika para nelayan telah menangkap ikan. Cara menangkapnya dikenal dengan nama sero.
Mayoritas suku Banggai memeluk agama Islam. Mereka adalah pemeluk agama Islam yang taat. Beberapa tradisi mereka dipengaruhi oleh agama Islam, salah satunya perayaan Maulid Nabi Muhammad saw, yang dirayakan hampir oleh seluruh masyarakat Banggai. Mereka membuat kue Kala-kalas atau Kaakaras. Kue ini tebuat dari tepung beras yang digoreng. Tradisi adat lain, adalah upacara pelantikan Tomundo, upacara pelantikan Basalo dan lain sebagainya.
Masyarakat suku Banggai bermatapencarian yang beragam, mulai dari bidang pertanian pada tanaman padi, kopi, coklat, jagung, ubi dan lain-lain. Selain itu mereka juga banyak yang menjadi nelayan. Kegiatan lain adalah berburu (Baasu), yang merupakan salah satu kegiatan yang dari zaman pra kerajaan Banggai. Berburu masih sering dijumpai di daerah pedalaman, terutama di kawasan Pulau Peling.


Tuesday, June 3, 2014

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah



K U R E U

NARATOR  :  Di Kabupaten Tojo Una-una, dahulu kala konon katanya, di sebuah dusun yang jauh dari keramaian, tinggalah masyarakat yang masih memegang teguh adat istiadat dan kepercayaan leluhur.
                        Mereka hidup penuh kedamaian, rasa kekeluargaan yang tinggi membuat kampong tersebut makmur sejahtera dengan hasil pertanian yang melimpah berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.
                        Pada suatu hari…..

(Terdengar suara burung Kureu/Sound efek)
Dua orang warga kampong yang kebetulan lewat, mendengar suara burung Kureu.

A                  :  Hey B, ngana ada dengar itu ?
B                   :  Iyo, kita dengar, suara bunyi sirene oto pemadam to ?
A                  :  Bodo ngana ini lea, dulu belum ada itu oto pemadam, co ngana dengar bae-bae….

Keduanya memasang telinga

B                   :   Oo….iyo, kita dengar…(tertawa terkekeh)
A                  :   Apa yang ngana dengar ?
B                   :   Ngana pe konto to ? (tertawa lagi)
A                  :   Pongo memang ngana ini lea, co dengar bae-bae, itu suara burung Kureu…
B                   :   Ooo….bilang dari tadi ke’, kalo ngana bilang dari tadi ad suara burung kureu pasti kita dengar, baru….kenapa kalo ada bunyi burung kureu ?
A                  :   Itu tandanya musim panen telah tiba…
B                   :   Baru ?
A                  :   Ngana pangge kamari dulu mangge supaya mangge bisa jelaskan sama warga kampong untuk segera mengadakan pesta panen….

B memanggil  mangge untuk mendengarkan suara burung Kureu, tapi begitu mangge sampai di TKP suara burung Kureu menghilang ….


B                   :   (masuk bersama Mangge) Disitu itu mangge suara Kureu…
Mangge      :   Mana ? Kenapa mangge te dengar ?
 A                 :   Tadi babunyi mangge…
Mangge      :   Kamu dua ini permainkan orang tua eee……….
B                   :   Butul mangge, tadi babunyi, berani sumpah pocong samber gledek   lea, tadi babunyi itu kureu….
Mangge      :   Pambohong (marah), sini kamu dua, mangge mo kase…kamu dua…
B                   :   Jangan kasiang mangge, (pada pemusik) hey…pemusik, kase babunyi dulu itu burung kasiang lea…
Pemusik     :   Burungnya sapa?
B                   :   (marah) Ngana pe burung….itu bunyi burung kureu tadi…kalo tidak ini mangge somo mutilasi torang dua ini lea…   

Pemusik membunyikan suara burung kureu

A                  :   (senang) Itu mangge, so babunyi ulang itu Kureu….
Mangge      :   O…iyo butul, nah skarang kamu dua panggil seluruh warga kampong untuk melaksanakan pesta panen….
A & B           :   Siap komandan….

A & B sambil membawa kentongan berkeliling kampong memanggil warga. Setelah semua warga berkumpul maka dimulailah rembug kampong yang dipimpin oleh mangge.     

Mangge      :   Bagaimana ? So ada semua ini ?
Semua warga          :   Sudah mange….
Mangge      :   Baiklah, assalamu alaikum wr. Wb. Kita ketahui bersama bahwa kepercayaan leluhur kita selama ini yaitu bila burungkureu telah berbunyi  berarti musim panen telah tiba…
Semua warga          :   Betul mangge…
Mangge      :   nah, untuk itu marilah kita bersma mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakn pesta panen…
Semua warga          :   Baik mangge...    

Maka bergegaslah seluruh warga kampong untuk melaksanakan pesta panen. Sementara itu nampak sepasang muda mudi sedang asyik berpacaran memanfaatkan momen yang ada

Pemuda     :   Sssst….sini manis…(memanggil kekasihnya)
Pemudi       :   ada apa beb ?
Pemuda     :   nanti malam kan puncaknya  pesta panen, ngana maukan ikut deng kita ?
Pemudi       :   Mo kemana lagi torang beb ?
Pemuda     :   Ke surga…..kita mo bawa ngana ke surga yang paling tinggi…
Pemudi       :   Kita tem au beb….
Pemuda     :   Kenapa te mau manis ?
Pemudi       :   Kita tau ngana pe maksud itu…beb, kita masih skolah lea…
Pemuda     :   Besok kan hari minggu manis, berarti te skolah to ?
Pemudi       :   Huh…kasiang kita pe cowo ini lea…pe bodo…pokonya kita te mau ngana bawa di ngana pe surga itu, kecuali…
Pemuda     :   tenang…kita pasti tanggung jawab…
Pemudi       :   Butul itu ?
Pemuda     :   Butul, dijamin hot…
Pemudi       :   Okelah kalo begitu…
Pemuda     :   Skarang mari pulang, mandi, bawangi-wangi, nanti malam torang ke surga, oke?
Pemudi       : Oke beb…

Begitu keduanya out dari panggung, masuk tari kayori untuk memeriahkan pesta panen…
Tari kayori out, masuk pemudi yang telah hamil 3 bulan bersama mamanya yang marah-marah…

Mama         :   (marah sekali/cerewet) Ngana so bikin malu keluarga, ngana baku bawa dengan itu laki-laki sampe ngana bunting, baru itu laki-laki so lari te mau tanggung jawab, ngana lempar pece orang tua pe muka, ngana bikin malu, bikin malu butul…(menjambak rambut pemudi)
Pemudi       :   (sambil menangis) ampuun mamaaa…ampuuuun…
Mama         :   mama te mo kase ampun ngana, ngana so bikin malu, kalo Cuma bisa dibuka ini muka, mama te mo pake lagi ini muka, mama mo simpan dalam lamari, malu kasiang mama nak, maluuu….(mama menangis emosi)…Skarang dengan terpaksa ngana mama pasung…

Pemudi       :   Jangan lea mamaaaa, ampuuun mama….
Mama         :   tidak ada jangan, ngana memang harus dipasung….

Pemudi terpasung, mama out

Pemudi       :   (meratapi nasibnya sambil menangis)  oh…kasiang kita lea, memang kita pe cowo itu laki-laki biadab, jahanam, dia bilang dia mo tanggung jawab ternyata tidak. Abis dia bawa kita ke surga dia kase tinggal kita di neraka jahanam sandiri kasiang lea… 

Tak lama kemudian munculah A & B. ketika A & B masuk burung kureu pun berbunyi

A                  :   Babunyi lagi Kureu, padahal baru tiga bulan yang lalu pesta panen…
B                   :   Butul, ini ada yang janggal…ini pasti ada apa-apa…
A                  :   Torang harus pangge mangge…
B                   :   Ngana lagi yang pangge mangge karna tiga bulan lalu waktu kita pangge mangge, mangge te percaya kita lea…
A                  :   Oke nanti kita yang pangge…

A memanggil mangge, mangge masuk…

A                  :   Mangge, kureu babunyi lagi tapi skarang kan bukan musim panen…ada apa ini mangge?
Mangge      :   Pasti ada yang tidak beres di kampong kita ini, coba kamu dua cari tau apa yang terjadi…

A & B mondar mandir di atas panggung hingga mendapati pemudi yang terpasung di sudut panggung

B                   :   Mangge, kesini…liat, ini yang bikin burung kureu babunyi…seorang gadis yang hamil diluar nikah , skarang dia terpasung

Mangge  dan A menghampiri B melihat pemudi yang terpasung kemudian diikuti oleh seluruh warga kampong.

Narator masuk

Narrator    : Demikianlah kisah mitologi burung kureu yang diyakini masyarakat di kabupaten Tojo Una-una sebagai burung pembawa kabar. Bila burung Kureu berbunyi maka ad dua kemungkinan, yang pertama adalah pertanda datangnya musim panen, dan yang kedua adalah adanya perempuan yang hamil diluar nikah di kampong tersebut. Terimakasih semoga kisah ini bermanfaat bagi kita semua, wasalamu alikum wr. Wb.

Randa Ntovea (cerita Rakyat Kab. Sigi)



Randa
Ntovea
Naskah / Sutradara : M. Ramadhan
Sastra Sulawesi Tengah



                Disuatu desa (kerajaan sigi) ada sebuah legenda tentang seorang anak raja yang terkena kutukan, ini ceritanya..
 Tiba-tiba muncul seorang pemuda bernama juhura dikejar oleh seorang temannya yang bernama sudu
Juhura : woooiiiii kamaii, raga yaku…
Sudu      :hooooi ta usah katanya capek saya ini ahhh, bawa kemari katanya kalicopeku, sa kasih tau papamu kau nanti itu…
Juhura  :he’eeehh betul kau 100, raga ruru yaku leng, baru kau dapat kalicopemu (b’pasang muka nodoko hiaa)
Sudu      :eeeeee benggabula domo vei nalenge yaku hii kupajeko lenjemu ngena…
Juhura  :apa kau bilang tadi… coba replay..
Sudu      :nuapa ? niuliku kupajeko lenjemu ngena…
Juhura  :bukan, sebelum itu yang “tiiiiiit’ (seolah olah disensor katanya)
Sudu      :nalenge yaku, yang itu ? (mulai penasaran)
Juhura :lagi, lagi sebelum itu lagi..
Sudu      : ooooohh benggabula…
Juhura  : haiiiii dodo, bukan saya yang bilang itu, kau itu
Sudu      :aii aii jangan bakasih takut lee, aii saa jaguru kau nanti..
Juhura  :kau tau, kata “tiiiit” itu dilarang diucapkan ditanah sigi ini..
Sudu      :boooooh ? huuuuuh kayak sudah nabaraka gagamo jaritamu iko..
Juhura  :eeeehh tutu ikoo, makanya jangan cumin bergaul dengan kambingmu saja kau, sekali kali berkunjung kerumahnya tata, supaya banyak kau tau tentang tanata hii !
Sudu      :sema tata tano, mangge riumba tano ia ?
Juhura  :botumo iko, sangana tuu, ane ledo masala yaku, iiii anu, iii sema vei , (terhenti pembicaraan, dan tiba tiba ii sudu memukul kepala juhura karena penasarannya)
Sudu      :iii sema anu ?
Juhura  :aaaaaa iii “Michael van dam” sangana, nipongare mangge masudi !
Sudu      :jiiiaaaahhh, nadea tarasimu mpo soamu, nesoa naga, ngangamu nesoa dupa !
Juhura  :domoooo raepe penonton ngena, eeee hau kita ribanua tata kamiimooo
Sudu      :oke seeeepppp bosss

Sampainya dirumah tata

Sudu      : riumbaa banuana taa, aii naeka yaku, hiii banyak kuburan disini
Juhura  : itu eee kau lihat kata so dekat itu          
Sudu      :mana, mana (melangkah kedepan)
Juhura  :baaaakkkaaaayyaaa ( mengagetkan ii sudu)
Sudu      :ammpuuuun tupu, nangaku yaku “saya yang ba bolos waktu jam pelajarannya pak gumlan kemarin”
Juhura  :hahahah, sudah sampe kita itu dan mangge..
Sudu      :tailanamu iko, eva ma copotmo jantungku…
Juhura  : sini sudah pii kita tapi kau duluan masuk..
Sudu      :baaaahhh kau, kau yang baajak saya kemari..
Juhura  :oke dan sama2 kita
Sudu dan Juhura              : assallamualaikum…
Mangge:waallaikummusalam, sema hiaa..
Juhura  :hii mangge yaku, Juhura…
Mangge:ooooh ikoo makumpu tano kamaii pesua risi..
Juhura dan sudu               : oooh iyooo mangge
Mangge:jadi nuapa sabana komiu tumai
Juhura  :vesi lee mangge maksud kami kemari hiii…
Sudu      :vesii, mangge kami hiii mau bertanya kenapa dan ditanah sigi ini dilarang ba bilang tiiiiittt..
Mangge:nuapa tuuu, I tiiitt, lesaniku, sanga mombine ? leria pellet mombine risi
Juhura  :oooh mksudnya ii sudu                , “bengga bula” mangge, berimba kau juga bapotong ceritanya orang
Sudu      :hhaiiiii kau yang bilang itu bukan saya..
Mangge:oooohh, itu cerita zaman dulu… lain sekarang, bagaimana sudah modern sekarang..remaja2 sekarang ini sudah tidak diperdulikan lagi cerita kayak begitu..
Juhura  :ceritakan dulu mangge..
Sudu      :iyoooo penasaran kitorang ini…
Mangge:vesii jaritana, ditanah kaili kita ini dulu ada kerajaan, kerajaan sigi namanya, dikerajaan sigi ini ada raja, ratu, dan seorang putri namanya sudah tidak asing lagi, sudah sering kita dengar, namanya randa ntovea
Sudu      : o.. iyo mangge, sering sa dengar itu
Mangge: bah iko muni nemo koto jarita belum sa lanjutkan sudah kau potong, begini cerita bengga bula itu berawal dari seorang putri ini yaah, ii randa ntovea
                Music mengalur mencenkam, suara gendang mengalun keras, masuk seorang putri dan kedua dayangnya
Putri      : ee.. dayang ambilkan dulu saya sisir dengan minyak rambut
Dayang 1: iyee.. tuan putri..
Putri      : cepat..! so tesabar saya ini..
Dayang 2: sabar putri
Putri      : bah! Ba banta kau! Kau itu Cuma dayang disini, kedudukanmu nsama dengan bengga, bengga bula iko!!
Dayang 1: aiiii,, astagah tuan putri, tidak boleh bilang begitu, nakapali!
Putri      : huuuh . apa juga yang kau tau.. huu ! sudah saa mau pigi taman saja..
                Putrid dan dayangnya meninggalkan stage…
Mangge: aaaa.. kamu liatkan dari situ asal ceritanya.. jadi bagaimana menurut kamu, cantik tuan putri??
Sudu      : ohh.. iyo mangge cantik sekali
Juhura: iyo mangge cantik sekali, kaya mpoook nori..
Sudu      : beaaa…! Berimba taa matamu tano, masa tuan putri kau bilang kayak..
Juhura:


MOnololog Mantalu (Festival Danau Lindu III)

MONOLOG FRAME MANTALU
Naskah : M. Ramadhan
Monolog Tradisi Sulawesi Tengah


Panggung senyap, terdengar suara lalove yang berkumandang lalu tiba-tiba dihentikan oleh suara gong yang menggema memecah malam waktu itu dan semakin lama suara gong itu menghilang lalu masuk nyanyian yang dinyanyikan ketika upacara novunja dilaksanakan.
Lighting stag pada siluet, terlihat adegan orang sedang melakukan gerakan dibaliknya. Lalu lampu padam kembali dan kembali lighting stag ketika aktor berada diatas sebuah drum dengan gesture yang santai sambil menghisap sebatang tembakau dan disampingnya ada sebuah meja kecil dan diatasnya ada secangkir kopi atau saguer
Hammmmaaaaa….napane betul matahari beberapa hari ini, sampai-sampai pacul dan tanah tidak pernah mau baku akur, begitu juga juga sapi kayak sudah jengkel ba’ lihat saya, yang ada Cuma bising sang traktor yang angkuh dengan kaki dan lengan besinya (menarik nafas seakan mengeluh)
Beberapa saat terdiamdan melihat situasi sekitar yang mulai hening
Astaga……sudah mulai dant pertunjukannya padahal tadi saya sementara latihan menjadi aktor dadakan yang baik
Tapi tunggu sebentar (masuk kedalam drum dan mencari sesuatu) dinaskah ini ditulis kalau pertunjukannya belum dimulai begitu juga dibilang sutradaranya (merasa malu dan jengkel) kalau begitu saya keluar dulu, mau baganti kostum biar ganteng sedikit (ketika aktor hendak keluar, seakan dia mendengar suara yang menyuruhnya tetap melanjutkan adegannya) apa…….. lanjut saja, tapi saya belum pakai parfum ini,  terakhir orang…..(seakan dimarahi oleh seseorang, aktor merasa risih dengan komentarnya) oh iyo….iyoo….okemo tano, (berjalan kearah drum) nandasa betul sutradaranya, narau-rau mungkin gara-gara…….(kepada penonton sambil tertawa kecil) kamu orang sudah mengerti toh….ah itu dia ……bela tanah air….(ketawanya semakin besar lalu seakan mendengar penonton tertawa diapun menyuruh penonton agar tidak terlalu gaduh)  sssstttt….jangan terlalu lebar ketawanya nanti hawa malam ini menjadi mencekam.
Kalau begitu saya mulaijo pertunjukannya….(aktor lalu duduk diujung meja bersampingan dengan property diatasnya)…sarara sampe suvuku, ntuama nte tinaku jumangu-mangu …eh tabale, tapi biar saja alabut….maklumlah saya hanyalah seorang anak panggung dadakan, sekali lagimohon dimaklumi hammo….
Baiklah penonton, saya akan mencoba memanggil aktor lain yang ada dicerita ini,….(sambil berteriak memanggilnya)…tuaka….tuaka….tuakaaaa…..
(lampu stag dibelakang siluet dan menari bersama siluet tersebut) aku hidup dalam mitologi-mitologi kalian yang menggambarkan cita rasa sebuah adat istiadat yang kalian junjung (aktor berhenti bermain dengan siluet yang memakai roda dan melihat tajam kearah penonton) oh tapi maaf sebelumnya, saya bukanlah si tuaka yang dipanggil oleh rekan saya yang ada didimensi sebelah, nama saya adalah Baetia, walaupun saya adalah bungsu dari lima orang bersaudara namun cerita ini berdiri dari langkah-langkah saya, sekali lagi nama saya adalah Baetia, bisa dicerna bukan….yah sudahlah…(seakan mendengarkan sahutan penonton)..status…..apa jenis kelamin…..jangan ….kalian seharusnya jangan menanyakan sesuatu yang sifatnya prinsipil atau  yang sifatnya pribadi nanti konsentrasi kita buyar dan tidak terfokus pada malam-malam atau hari-hari kita…apa kalian tahu, sudah lama saya merindukan hari-hari ini, hari dimana semua hutan tetap hijau, air mengalir dengan jernih, araya tentram dengan kawanannya, yang mana kesemuanya membuat mata ini hanyut dalam desir air ditepin sungai Paneki, (seakan mata aktor terasa berat untuk melanjutkan) maaf, penonton, saya harus bergegas pindah kedimensi yang lain sebab malam sudah bertambah malam..(lalu aktor kembali menari dengan Siluet putih tadi dan lampu mati perlahan dan seketika aktor langsung duduk dan minum kopi)…oh iya penonton, maaf sebelumnya telah terjadi kesalahan tehnis ternyata tadi itu bukanlah sang tuaka yang kita panggil tapi ternyata si bungsu Baetia…tunggu sebentar saya Tanya dulu teman saya (aktor seakan menghadap kearah lain namun masih tetap dalam posisi duduk) dimana dia….apa tidak tahu, (pada penonton) tunggu sebentar penonton, saya akan coba BBM-an dengan kawan saya yang lain semoga dia tahu keberadaannya dimana….(berdiri sambil menunggu Handphonenya berbunyi dan tidak lama handphone miliknya berbunyi) itu pasti infonya….(berjalan mendekati meja) oh iya penonton ternyata betul seperti prediksi saya kalau ternyata sang tuaka sedang asik bercengkrama sambil mengasah guma andalannya dan sesekali pohon-pohon mempelototinya dengan gusar, mau tahu kenapa pohon-pohon itu gusar..? itulah pertanyaan yang seharusnya kita tahu dari baetia sebab sepengetahuan saya sang tuaka adalah orang yang paling menaakutkan dimuka bumi ini, dan saya harap Baetia mau memberikan bocoran dari pertanyaan-pertanyaan kita tadi, (merengsek kesisi lain panggung) sabaar penonton sepertinya ada seseorang yang sudah tidak sabar untuk memberikan infonya dari sisi lain panggung ini dan saya harus kembali kepembaringanku sebab dia akan segera dating (akor lalu masuk kedalam drum). (sang Tuaka keluar dengan sebilah parang yang tajam dari dalam drum dan memakai sesuatu diatas kepalanya dan menutupi wajahnya dengan topeng merah dan dengan lantang dia menyapa para penonton) selamat  malam gunung-gunungku dan apa kabar….? Semoga kabarmu baik-baik saja….(mengarah kesisi lain) selamat istirahat hutan-hutanku yang imut….semoga kalian tetap akur  dan semoga pula kalian bisa beristirat dengan tenang dan siapa tahu juga kalian akan bertemu dengan mimpi-mimpi indah kalian  (aktor lalu merubah intonasi dan mimiknya seakan licik) sebab besok kalian akan bersedih dalam duka yang teramat dalam, sebab..(mengangkat gumanya) guma ini akan mulai meraung dengan lapar pada pijakan kalian….(sambil berjalan kearah drum) mimpi yang indah…mimpilah yang indah….(lampu kembali menyala ketika seseorang muncul dari dalam drum) penonton, apa kabar kalian…sadis terdengar bukan..? saya kira itulah sang tuaka yang konon dialah yang terkuat, dari pada kita membicarakan satu sosok saja bagaimana kalau kita panggil keduanya untuk saling bertemu dalam satu ruang, tapi sebelumnya saya akan coba bermain dalam kegelapan dulu  (lampu lalu menyala merah mengarah kesiluet dan keluarlah sosok tuaka dengan keangkuhannya dengan tertawa sekan puas) ……..marilah kita semua untuk tertawa mala mini, sebab duka yang mereka alami adalah keseimbangan dalam hidup ini…..(tertawa)…kalian akan menjadi saksi kebengisan gumaku, ketulusan egoku….kehangatan amarahku….mari….mari…..ayo kemari …mari kita rayakan kemenangan ini dengan pesta…tapi tunggu sebentar sepertinya ada yang kurang bvahagia bersama kita malam ini, (berjalan sebentar menuju arah drum) kenapa mesti kau cabut semua kebahagian mereka…mereka polos…mereka hanya ingin menghibur hari dan malam kita….apa kau tahu….dan apakh kau pernah berpikir sebentar untuk apa semua itu…kau rubuhkan mereka…tapi kau tidak pernah tahu apa yang akan kau ganti….(aktor kembali memasang topengnya) ada apa denganmu Baetia….bukankah semua ini adalah kepuasan untuk kelangsungan hidup kita kelak….saya menjadi bingung denganmu…jangan-jangan kau sudah tidak mau makan….(melepas topengnya) tidak waras….siapa yang tidak waras….kenapa keangkuhanmu tetap saja bengalahkan hatimu, ingat kau harus tahu persoalannya, bahwa gunung dan hutan yang kau tebas itu pasti akan marah dan kaupun tidak pernah tahu apa yang akan kau Tanami disana….kau justru hanya berbicara tentang makanan….maafkan saya harus ikut dalam duka mereka dan menjadi bahagian dari mereka sebagai tumbal dari keangkuhanmu…. …semoga pengorbananku akan menjadi berguna untukmu sebagai tanaman yang kau butuhkan… selamat tinggal Tuaka (aktor lalu hilang dibalik siluet lalu alunan musik suasana masuk dan lighting mati dan yang ada hanya cahaya lilin yang dinyalakan oleh sang tuaka yang hanyut dalam suasana dan seakan menyesali serta menyayangi kepergian Baetia )….Baetia….Baetiaaaaa….akan kukatakan pada sinar bulan ketika malam-malam terakhirmu pun hanyut dalam sepi mereka…akan kukatakan pada langit hari ketika mendung mulai memakai jubah hitamnya, akan ku turuti semua wasiat darimu wahai adikku sayang…. (kepada penonton) wahai kalian penghuni ruang-ruang keangkuhanku….ingatlah hari ini Sesutu kemungkaran telah terkikis oleh pengorbanan yang tersesali…(kepada diri sendiri) sungguh saya ikhlas dengan semua ini….semoga kebaikan dan pengorbananmu bisa kembali menghijaukan ruangku dan membuat semua perut kami bisa tersenyum……(lampu padam perlahan-lahan…dan tuaka terus memanggil nama Baetia…)…..Baetia..Baetia…..Baetia…..

(kembali pada narator) itulah dua sisi yang kehidupan yang berlawanan namun tetap saling membutuhkan dimana salah satunya rela berkorban untuk yang lainnya….Maya Mpae yang kita kenal sekarang ini….konon adalah penjelmaan dari rekan saya tadi yang rela mengorbankan dirinya. Sebagai seorang anak panggung  sepertinya kita diajarkan untuk terus berkarya, menghargai alam sekitar tentunya juga adat istiadat kita……mari berkarya ….mari mencintai kebudayaan kita dan mari mencintai alam kita dengan Tradisi dalam Konservasi…..penonton sepertinya saya mau lanjutkan mimpiku dulu siapa tahu saya bisa ketemu kembali dengan sang tuaka dan mendapatkan bocoran kisahnya lagi….tabe…(aktor berjalan dan naik keatas drum lalu tertidur pun lampu redup perlahan-lahan……

Sunday, November 17, 2013

Puisi Diam

Mata cipit menggugah hati yang terjepit
merengsek bagai angin yang terbelit
dan bianglala pun berlari terbawa hanyut
sudah berapa lama kita harus berkelahi dengan denyut
kitapun terus bangga dengan mereka yang lewat
oh....bidadari malam yang tersangkut dikawat-kawat
masih ada kata yang kau racik untuk sipelit

fajarpun datang tat kala embun mulai menipis
dalam ruang-ruang sang pengais
sehingga mereka tidak pernah tahu tentang isyarat yang terlepas
dari keraguan mereka akan kisah yang manis